kangsetia1heri.com – Punya Mobil Listrik, Mobil Bensin Malah Berdebu? Begini Pengalaman Pemilik Wuling Aira EV. Punya lebih dari satu mobil ternyata bisa membuat pola penggunaan kendaraan berubah. Salah satunya seperti pengalaman pemilik Wuling Aira EV yang dibagikan di komunitas Wuling Air EV Indonesia.
Dalam unggahan tersebut terlihat sebuah mobil listrik Wuling terparkir berdampingan dengan mobil bermesin bensin. Pemiliknya mengaku setelah merasakan menggunakan mobil listrik untuk aktivitas sehari-hari, mobil bensin justru semakin jarang dipakai.
“Ternyata benar kata orang orang, kalo udah ada mobil listrik , mobil bensinnya bakal bedebu . Se enak itu ternyata . Thanks aira .” ujar bro Ismurhadi Rizki pada grup Wuling Air EV Indonesia tanggal 17 Agustus 2026 sambil doi mengunggah penampakan Aira EV berdampingan dengan Xpander Cross
Kalimat tersebut memang terdengar sederhana. Namun kalau dipikir-pikir, ada alasan logis di balik fenomena tersebut: biaya operasional, karakter berkendara dan kemudahan penggunaan mobil listrik untuk aktivitas harian.
Menariknya lagi, kolom komentar unggahan tersebut justru menjadi perdebatan kecil. Ada yang merasakan mobil listrik sangat hemat, tetapi tidak sedikit pula yang masih khawatir dengan umur baterai, harga penggantian baterai hingga nilai jual kembali.
" bener banget om.. kmarin sy juga jual air ev dan spk aira ev.. ice nya bener2 mangkrak... keiritannya 130 rupiah per km..alphard 1600 per km.. 1:10kml..12x lebih irit..calya 600 per km 1:15kml..scoopy 200 per km 1:50kml..selain irit.. respon motor listrik itu tidak delay lalu meraung seperti matic cvt.. digas langsung lari tanpa jeda tanpa suara.." ujar Irvan Hasyim sambil membagikan foto juga.
Kenapa mobil bensin bisa jadi jarang dipakai?
Bagi pemilik yang mempunyai mobil listrik dan mobil bensin sekaligus, pilihan kendaraan biasanya kembali kepada kebutuhan.
Untuk perjalanan pendek seperti berangkat kerja, mengantar anak, belanja atau sekadar aktivitas dalam kota, mobil listrik punya satu keunggulan yang langsung terasa: tinggal masuk, tekan pedal dan jalan.
Tidak ada suara mesin bensin, tidak ada perpindahan gigi konvensional dan respons motor listrik terasa spontan.
Karakter seperti inilah yang membuat sebagian pemilik akhirnya lebih sering memilih mobil listrik dibandingkan mobil bensin.
Apalagi kalau mobil digunakan hampir setiap hari. Selisih biaya energi sedikit demi sedikit bisa terasa dalam pengeluaran bulanan.
"Betul banget itu, tinggal kasih jadwal manasin aja, dan akhirnya dituker juga sama mobil listrik lagi😁 itu pengalaman saya saking ternyata banyak enaknya.." terang Mamanya Fadelqiara.
Klaim Rp130 per kilometer, benarkah bisa seirit itu?
Salah satu komentar menarik dalam unggahan tersebut menyebut biaya penggunaan mobil listrik sekitar Rp130 per kilometer.
Ada pula yang membandingkannya dengan mobil lain. Misalnya biaya perjalanan menggunakan mobil bensin disebut berada di kisaran ratusan rupiah per kilometer, sementara mobil listrik jauh lebih rendah.
Namun angka seperti ini jangan langsung dianggap sebagai patokan mutlak.
Biaya per kilometer sangat tergantung pada beberapa hal:
- konsumsi energi kendaraan;
- tarif listrik yang digunakan;
- kondisi baterai;
- gaya berkendara;
- kecepatan rata-rata;
- penggunaan AC;
- kondisi jalan;
- serta apakah pengisian dilakukan di rumah atau menggunakan SPKLU.
Jadi, angka Rp130/km lebih tepat disebut pengalaman pemilik, bukan angka resmi yang pasti berlaku untuk semua pengguna.
Inilah salah satu hal menarik dari mobil listrik. Kalau mayoritas pengisian dilakukan di rumah, biaya energi memang berpotensi lebih rendah dibandingkan membeli BBM untuk perjalanan dengan jarak yang sama.
"1 kWh cuma Rp3.000, Bisa menempuh 20-30KM, Kalau BBM bisa memakan 1L bensin seharga Rp10.000(pertalite), Jadi iritnya mobil listrik itu 1:3 mobil Bbm " terang bro Cahyo Putro.
Wuling Aira EV memang ditujukan untuk penggunaan harian
Kalau melihat produk terbaru Wuling, karakter tersebut memang sesuai dengan konsep Aira ev.
Wuling meluncurkan Aira ev di GIIAS 2026 sebagai city car listrik untuk kebutuhan mobilitas sehari-hari. Model ini tersedia dalam dua pilihan, yakni Standard Range dengan jarak tempuh hingga 205 km CLTC dan Long Range hingga 301 km CLTC.
Harga OTR Jakarta yang diumumkan Wuling juga cukup menarik untuk ukuran mobil listrik baru, yakni:
| Varian | Klaim jarak tempuh | Harga OTR Jakarta* |
|---|---|---|
| Aira ev Standard Range | hingga 205 km CLTC | Rp155 juta |
| Aira ev Long Range | hingga 301 km CLTC | Rp175 juta |
*Harga yang tercantum merupakan harga OTR Jakarta dari Wuling dan dapat berbeda menurut wilayah maupun program penjualan.
Dengan harga tersebut, Aira ev jelas menyasar konsumen yang membutuhkan kendaraan kecil untuk aktivitas perkotaan.
Dimensinya juga compact. Wuling mencatat Aira ev mempunyai panjang 3.268 mm, lebar 1.550 mm dan tinggi 1.575 mm. Kapasitas bagasi disebut mencapai 838 liter ketika jok belakang dilipat.
Artinya, mobil ini memang bukan dibuat untuk menggantikan SUV atau MPV keluarga dalam semua kondisi.
Justru kekuatannya ada pada mobilitas harian yang simpel dan praktis.
Mobil listrik bukan berarti mobil tanpa biaya
Nah, bagian ini menurut saya penting.
Komentar di komunitas menunjukkan dua kubu yang cukup jelas.
Ada pemilik yang mengatakan mobil listrik sangat menyenangkan karena hemat. Tetapi ada juga yang mengingatkan mengenai baterai dan biaya ketika kendaraan sudah berumur.
Menurut saya, keduanya tidak salah.
Mobil listrik tetap mempunyai biaya kepemilikan. Hanya saja bentuk pengeluarannya berbeda dengan mobil bensin.
Pada mobil bensin kita mengenal oli mesin, filter oli, busi, transmisi, sistem pembakaran dan berbagai komponen mekanis lainnya.
Pada mobil listrik, sistem penggeraknya lebih sederhana. Tetapi ada komponen yang justru menjadi sangat penting, yaitu baterai tegangan tinggi dan sistem kelistrikan kendaraan.
Karena itu calon pembeli jangan hanya menghitung:
“Sekali jalan cuma keluar sekian rupiah.”
Hitung juga biaya kepemilikan dalam jangka panjang.
"Haha betul mbl bensin saya sangat jarang sekali dipakai, takut malah mogok.... klu mbl listrik bolak balik pakai kerja tiap hari 18 km seminggu cmn habis Rp.25.500,- pakai mobil bensin hbs 400k seminggu " tambah bro Teddy Lesmana.
Soal baterai rusak 3-4 tahun, jangan langsung percaya begitu saja
Ini juga menjadi salah satu perdebatan paling ramai dalam kolom komentar.
Ada yang mengatakan baterai mobil listrik hanya bertahan 3-4 tahun. Setelah itu harus diganti dan harganya mahal.
Di sisi lain, klaim tersebut tidak bisa digeneralisasi untuk semua mobil listrik.
Untuk Aira ev sendiri, Wuling memberikan program Free Lifetime EV Core Components Warranty dalam program peluncuran yang diumumkan saat GIIAS 2026, dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
Artinya, pembeli harus membaca detail garansi secara lengkap. Jangan hanya melihat kata “lifetime”, tetapi pahami komponen apa yang ditanggung, persyaratan klaim, serta ketentuan penggunaan kendaraan.
Ini penting karena garansi bukan berarti semua kerusakan otomatis gratis.
"Banyak yg takut 3-4thn lagi EV bakal rusak, kalau saya positive thinking, 2tahun lagi udah ada batt yg lebih canggih dan murah. Saya focus siksa EV biar jadi aset yg bisa support cari duit, rusak ganti baru, maaf ya beda pola pikir org miskin dan kaya🤣 " ujar bro Antonius Tommy.
Ada satu keuntungan yang sering terlupakan: mobil listrik enak untuk stop and go
Bagi saya, salah satu hal menarik dari mobil listrik justru bukan sekadar hemat.
Karakter motor listrik membuat mobil terasa berbeda ketika digunakan di lalu lintas perkotaan.
Saat lampu merah, macet, kemudian kembali berjalan, respons tenaga bisa terasa spontan. Tidak ada suara mesin meraung seperti mobil bensin ketika transmisi bekerja.
Untuk penggunaan dalam kota yang banyak berhenti-jalan, karakter tersebut memang menyenangkan.
Apalagi Aira ev mempunyai ukuran yang compact sehingga lebih mudah diajak bermanuver dan parkir di area perkotaan.
Jadi kalau kebutuhan utamanya adalah:
rumah → kantor → sekolah → minimarket → rumah
mobil listrik kecil seperti Aira ev memang masuk akal.
Tapi mobil bensin belum otomatis kalah
Ini yang kadang hilang dalam perdebatan EV versus ICE.
Mobil bensin masih punya keunggulan yang sangat jelas.
Misalnya ketika ingin perjalanan jauh secara spontan. Tinggal masuk SPBU, isi bahan bakar beberapa menit dan lanjut jalan.
Tidak perlu memikirkan lokasi pengisian listrik.
Begitu pula bagi keluarga yang membutuhkan kendaraan dengan kapasitas penumpang dan bagasi besar. Mobil seperti MPV atau SUV bensin masih lebih fleksibel untuk kebutuhan tersebut.
Jadi bukan berarti setelah membeli EV kemudian mobil bensin pasti tidak berguna.
Kebutuhan masing-masing pemilik berbeda.
Justru menarik kalau EV dijadikan mobil kedua
Dari beberapa komentar di unggahan tersebut, ada yang menyebut mobil listrik cocok dijadikan mobil kedua.
Nah, menurut saya ini justru skenario yang menarik.
Mobil listrik compact digunakan untuk aktivitas harian. Mobil bensin atau MPV tetap disimpan untuk perjalanan luar kota, membawa banyak penumpang atau kebutuhan tertentu.
Dengan pola seperti ini, masing-masing kendaraan punya tugas.
Contohnya:
| Kebutuhan | Mobil listrik | Mobil bensin |
|---|---|---|
| Antar jemput harian | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ |
| Perjalanan dalam kota | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ |
| Hemat biaya energi | ⭐⭐⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐ |
| Perjalanan jauh spontan | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
| Membawa banyak barang | ⭐⭐⭐ | ⭐⭐⭐⭐⭐ |
| Pengisian energi | Perlu charging | SPBU mudah ditemukan |
| Karakter berkendara | Senyap & responsif | Familiar bagi mayoritas pengguna |
Jadi bukan soal EV menang atau mobil bensin menang.
Lebih tepatnya adalah kendaraan mana yang paling cocok dengan pola penggunaan kita.
"Enak klo baru om,molis Hnya mampu bertahan paling lama 3-4thn selebihnya wajib ganti batree atau buang, Ngak usah ngelak rsakan saja smpai 3tahun kedapan, ini sama dgn speda listrik klo baru lluar dealee enak jarak tempuh awal mula 60km sekali cas,semakin hari jarak tempuh semakin turun batree low, " terang bro Chandra Edy Antocho.
Mobil bensin berdebu karena EV lebih enak? Bisa saja!
Kembali ke cerita awal.
Kalau sebuah keluarga mempunyai mobil bensin dan kemudian membeli mobil listrik, sangat mungkin mobil listrik lebih sering dipakai.
Bukan semata-mata karena mobil bensin jelek.
Tetapi karena pemilik menemukan kombinasi yang terasa cocok: praktis, senyap, responsif dan biaya energi lebih rendah untuk aktivitas sehari-hari.
Apalagi jika mobil listrik bisa di-charge di rumah saat malam. Pagi hari tinggal digunakan kembali.
Aira ev sendiri memang diarahkan Wuling sebagai kendaraan listrik harian. Dengan pilihan jarak tempuh hingga 205 km dan 301 km CLTC serta harga mulai Rp155 juta OTR Jakarta, mobil ini cukup menarik untuk konsumen yang mencari kendaraan mungil sebagai teman aktivitas perkotaan. (Wuling)
Namun sebelum ikut-ikutan membeli EV, tetap hitung kebutuhan sebenarnya.
Kalau sehari hanya menempuh 20-30 kilometer dan bisa charging di rumah, EV bisa sangat menarik.
Kalau hampir setiap minggu harus perjalanan antarkota ratusan kilometer dan tidak mau memikirkan charging, mobil bensin mungkin masih lebih nyaman.
Jadi, apakah mobil bensin bakal berdebu setelah punya mobil listrik?
Jawabannya bisa iya.
Bukan karena mobil bensin tiba-tiba menjadi tidak berguna, tetapi karena untuk sebagian orang, setelah mencoba mobil listrik untuk rutinitas harian, mereka menemukan bahwa EV memang lebih cocok untuk pekerjaan sehari-hari.
Dan kalau akhirnya mobil bensin cuma dipakai saat weekend atau perjalanan jauh...
Ya wajar kalau debunya lebih tebal. 😁
"Selera orang masing2 temenku dl jg gt enak juga pakai mobil setrum. Stlh 3 thun skrng mobil bensinya dipakai lg. Ganti aki mobil setrum mahal stlh mobil.terasa bekas naikanya tdk enak walaupun msh dipakai detik ini dia setauku lbh banyak pakai mobil bensin dr pd setrum nya." terang bro Hsj.
Salam satu aspal, jangan lupa #CariAman.
Sumber dan referensi
Informasi spesifikasi dan harga Aira ev dalam artikel ini mengacu pada informasi resmi Wuling Indonesia. (Wuling)
Maturnuwun
.jpg)
0 Komentar